Category Archives: Info Pendidikan

FH Unair Bahas Masa Depan Pendidikan Hukum ASEAN

legalFakultas Hukum Universitas Airlangga (Unair) dan School of Law, University of Washington menggelar konferensi internasional tentang masa depan pendidikan hukum di ASEAN. Acara digelar di Surabaya selama dua hari, 1-2 Oktober 2013.Konferensi yang dibuka oleh Dekan FH Unair, Muhammad Zaidun ini bertujuan untuk menggali persoalan dan solusi seputar pendidikan hukum di Asia Tenggara. Dibahas juga, bagaimana hukum bisa menjawab tantangan globalisasi, terutama di regional Asia Tenggara.Ketua Panitia Konferensi, Herlambang Perdana Wiratraman menuturkan bahwa negara-negara di ASEAN kerap memiliki persoalan yang sama. Misalnya, kasus korupsi dan penghancuran sumber daya alam (SDA) yang semakin marak.“Kami ingin membahas bagaimana pendidikan hukum bisa menjawab persoalan-persoalan seperti itu,” tuturnya kepada hukumonline, Rabu (2/10).Herlambang mengatakan konferensi ini bertujuan untuk mengubah budaya pendidikan hukum di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang masih mengarah ke formal justice system. Ia berpendapat pendidikan hukum seharusnya diarahkan ke social justice system.“Fakultas Hukum Universitas Airlangga ingin mengembangkan konsep ini,” ungkap Herlambang.Niat FH Unair ini akhirnya bergayung sambut dengan School of Law University of Washington. Kampus asal Seattle, Amerika Serikat, ini sedang mengembangkan konsep pendidikan hukum klinis di sejumlah fakultas hukum di Indonesia. Konsep ini lebih mengedepankan pendidikan hukum di tataran praktik. Meski begitu, Herlambang mengatakan konferensi ini tak melulu berbicara soal legal clinic (pendidikan hukum klinis). Ia menuturkan bahwa mengubah budaya dan sistem dalam pendidikan hukum tak bisa dilakukan secara instan, melainkan melalui proses-proses yang panjang.Herlambang berharap ke depan pendidikan hukum bisa digarap serius sehingga menghasilkan sistem hukum yang lebih baik di masing-masing negara Asia Tenggara. “Harus ada semacam refleksi yang sistematik untuk memperbaiki proses dan tujuan,” tuturnya.Lebih lanjut, Herlambang juga menyadari bahwa pendidikan hukum semakin berat karena persoalan yang ada sudah berada di tataran globalisasi. Karenanya, metode pendidikan hukum yang lebih menggunakan metode ceramah-cemarah harus segera diubah dengan diskusi dua arah yang melibatkan mahasiswa.Sejumlah pakar hukum luar negeri hadir dalam konferensi ini. Di antaranya,  Dekan School of Law, University of Washington Prof Kellye Y. Testy beserta beberapa pengajar lainnya, Direktur Eksekutif Organisasi Pengacara Washington State, Paula Littlewood, dan Adrian Bedner dari Leiden University, Belanda.Sedangkan, dari dalam negeri, sejumlah pengajar FH Unair termasuk Prof Frans Limahelu dan Dosen Filsafat Hukum Sidarta, serta puluhan dosen dari kampus se-Indonesia.Berdasarkan pantauan hukumonline, isu yang dibahas dalam konferensi ini memang beragam. Ada yang mempresentasikan agar sebaiknya fakultas hukum membiasakan mahasiswa/mahasiswinya untuk membaca putusan pengadilan. Ada juga yang membahas agar fakultas hukum berperan dalam mencegah sikap intoleran di masyarakat. (sumber : hukumonline)

FH Usakti Luncurkan Buku Hukum Humaniter

humaniterPusat Studi Hukum Humanirer dan HAM (terAs) FH Universitas Trisakti meluncurkan buku bertajuk “Refleksi dan Kompleksitas Hukum Humaniter” untuk mengenang Guru Besar Hukum Humaniter mendiang Prof. Haryomataram.Ketua terAs FH Usakti, Aji Wibowo, mengatakan buku karya Prof Haryomataram ini sudah direncanakan sejak 2011, tetapi rencana itu tertunda karena Prof Haryo lebih dulu berpulang ke haribaan Allah SWT. “Rencana yang tertunda itu akhirnya bisa kami laksanakan,” ujarnya di Jakarta, Kamis (17/10).Aji mengatakan gagasan untuk menerbitkan buku ini merupakan penghargaan murid-murid Prof. Haryo di terAs FH Usakti karena kecintaan almarhum terhadap buku. “Buku ini merupakan tulisan-tulisan beliau yang tersebar di berbagai kertas kerja dengan beberapa editing sesuai perkembangan yang ada,” ujarnya.Aji berharap buku ini bisa melengkapi referensi buku hukum humaniter dalam bahasa Indonesia yang masih sedikit jumlahnya.Koordinator Komunikasi International Committee of the Red Cross (ICRC) Jakarta, Patrick Megevand berterima kasih atas kontribusi Prof. Haryo untuk mencapai tujuan bersama, yakni kemanusiaan dalam konflik bersenjata dan pengembangan aturan hukum internasional. (hukumonline)

Perlu Pembaharuan dalam Pendidikan Hukum

HukumBANDUNG, Dosen Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Susi Dwi Harijanti mengatakan kondisi yang terjadi saat ini dalam dunia peradilan sebagai akibat dari tidak adanya pembaharuan dalam pendidikan hukum di Indonesia.Pembaruan pendidikan hukum menjadi garda terdepan pendidikan hukum. Sayangnya pada masa reformasi, politisi tidak tertarik pada perbaharuan pendidikan hukum karena dinilai isunya tidak seksi.Menurut dia, perguruan tinggi harus kembali menjadikan pendidikan untuk pembentukan watak dan karakter yang berani mengemukakan kebenaran. Jika perguruan tinggi tidak mampu mewujudkan itu maka habis sudah.”Selama ini pendidikan tinggi hukum luput dari reformasi hukum. Mereka sibuk mereformasi lembaga-lembaga hukum. Padahal orang-orang di kepolisian, mahkamah, pengadilan itu berasal dari perguruan tinggi. Akar masalahnya belum disentuh dan saat ini agak terlambat melakukan pembaharuan pendidikan hukum,” ujar Susi seusai Seminar Sistem Rekruitmen yang Tepat untuk Menghasilkan Hakim yang Ideal di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Kota Bandung, Kamis (10/10/2013). (Pikiran Rakyat)

Pendidikan Karakter Minimal 10 Jam/Semester

pendidikan karakterUniversitas Diponegoro Semarang mematok perkuliahan tentang pendidikan karakter kepada mahasiswa setidaknya 10 jam pembelajaran pada setiap semesternya.
“Setiap program studi diwajibkan memberikan materi pendidikan karakter sebanyak 10 jam/semester. Sementara ini dirintis untuk mahasiswa baru,” kata Pembantu Rektor III Undip Warsito di Semarang, Rabu (14/8/2013).
Menurut dia, pemberian materi pendidikan karakter tersebut tidak sebatas diberikan melalui pembelajaran tatap muka, tetapi yang terpenting ditanamkan melalui pembiasaan-pembiasan dan peneladanan.
Ia menjelaskan bahwa para mahasiswa baru pada awal-awal masuk kuliah harus mengikuti semacam pembekalan pendidikan karakter selama tiga hari setelah mahasiswa menjalani masa orientasi.
“Mahasiswa baru Undip mulai masuk pada tanggal 26 Agustus 2013. Selama tiga hari pertama ikut orientasi yang berkaitan dengan akademik. Pada tanggal 29-31 Agustus 2013 dilanjutkan pembekalan pendidikan karakter,” katanya.
Meski sudah diberikan pembekalan pendidikan karakter pada awal masuk kuliah selama tiga hari, dia mengaku tidak lantas penanaman pendidikan karakter terhenti, tetapi harus diberikan secara berkelanjutan.
“Setidaknya harus ada ’assessment’ secara rutin untuk memantau perilaku keseharian mahasiswa di kampus, misalnya bagaimana menghormati dosen, kawannya, membuang sampah sembarangan atau tidak,” katanya.
Oleh karena itu, kata dia, pemberian materi pendidikan karakter lanjutan diserahkan kepada masing-masing program studi yang sehari-harinya lebih mengetahui mahasiswanya dengan beban minimal 10 jam pembelajaran/semester.
“Ya, tidak mesti harus diberikan lewat pembelajaran di kelas. Bisa dilakukan di luar kelas, seperti lewat pembiasaan. Dosen harus memberikan keteladanan yang baik atas perilakunya terhadap mahasiswa,” katanya.
Nilai-nilai perjuangan Pangeran Diponegoro, yakni berani, jujur, dan peduli, kata Warsito, harus ditanamkan kepada setiap mahasiswa Undip, kemudian nilai positif lainnya, seperti kepemimpinan dan kewirausahaan. ( Sumber : Antara )